Takarananda
Takarananda adalah sebuah negeri di bawah hujan. Berasal dari kata Takaran dan Ananda. Kata ananda menunjukkan hubungan negeri ini dengan kultur sansekerta karena ananda berarti kebahagiaan.
Di negeri ini minyak goreng adalah emas cair yang mengalir di setiap dapur. Rakyatnya hidup damai, menggoreng tahu dan tempe dengan sukacita, hingga suatu hari. Negara berbaik hati menyediakan minyak goreng dalam botol-botol dengan merk Minyakita. Filosofinya berarti penyelamat rakyat kecil.
Hujan deras mengguyur, negeri ini makin terlihat jelas. Tapi rakyatnya gelisah karena botol Minyakkita terasa lebih ringan. Isinya yang dulu penuh satu liter kini menyusut menjadi 800 mililiter, bahkan ada yang cuma 750.
"Mungkinkah dikemas dengan botol ajaib, yang bisa menyusutkan isinya?" ini menjadi tema perbincangan di jalanan.
Sementara itu, perusahaan PT Artha Eka Global Asia, lebih dikenal dengan julukan "Pengemas Suci" terus bekerja keras. Bagi pejabat yang mengurus perdagangan minyak goreng, perusahaan ini bukan perusahaan biasa, melainkan penutur wahyu modern yang membawa misi mulia.
"Kami mengurangi takaran demi kesehatan rakyat!" demikian klarifikasi Sarkub, juru bicara mereka.
"Minyak lebih sedikit berarti kolesterol lebih rendah, jantungan berkurang, dan hidup lebih panjang. Ini bukan pelanggaran, ini pengorbanan!" serunya.
"Tapi minyakku kurang, gorenganku tak renyah. Aku rugi karena harganya sama," sahut Yu Dariyem sambil menggoyang wajan kosong.
Pelan namun konstan, sosialisasi itu berjalan dengan propaganda kesehatan. Bahkan akhirnya meresap dan mendarahdaging. Para dokter muncul di televisi, memuji kebijaksanaan PT Artha.
"Studi kami menunjukkan bukti bahwa minyak 800 mililiter menurunkan risiko stroke sebesar 0,02 persen!" kata mereka dengan wajah serius.
"Mungkin benar," kata Sarju, juragan wedhus, "lagipula, aku memang harus diet."
Rakyat Takarananda belajar menerima. Mereka menggoreng dengan hemat, meneteskan minyak seperti parfum mahal, dan selalu menyampaikan capaian baru kepada siapapun yang dijumpai dengan bangga.
"Aku sudah bebas kolesterol!"
Klimaks terjadi di panggung Menteri Perdagangan Republik. Ia berjalan pelan berwibawa menaiki mimbar. Sorot lampu menyinari wajahnya yang penuh kharisma, dan suaranya menggema layaknya nabi di padang pasir.
"Wahai rakyat Takarananda yang dirahmati Allah SWT, bersabarlah! Sang Pengemas Suci bukan sekadar perusahaan, melainkan utusan Tuhan yang ditugaskan untuk menguji dan menambah kesabaran kalian di bulan Ramadan ini. Minyak yang berkurang adalah ujian suci. Setiap tetes yang hilang adalah doa untuk jiwa yang lebih kuat. Ini bukan soal takaran, ini soal takwa!" kata Menteri.
"Benar, kami memang terlalu manja dengan minyak penuh," sahut rakyat yang hadir.
"Lihatlah betapa sabarnya kalian sekarang yang ikhlas mengantre lebih lama, menggoreng lebih sedikit, dan tetap bisa cengengesan . Sang Pengemas Suci adalah guru kita, dan kesabaran adalah pelajaran ilahi. Bersyukurlah, karena ini semua demi kebaikan bersama!"
Namun karena sudah terbiasa, akhirnya antrean dan takaran hilang rasa heroiknya. Beberapa hari kemudian, sesuatu yang tak terduga terjadi. Rakyat Takarananda, yang awalnya pasrah, tiba-tiba bangkit. Bukan untuk mengeluh, melainkan untuk menuntut lebih.
Mereka berunjuk rasa di depan gedung Kementerian Perdagangan, membawa spanduk bertuliskan "Kurangi Lagi Takaran Kami!" dan "Naikkan Harga untuk Kesucian Jiwa!"
"Wahai para penjaga pasar, dengarkan suara kami, rakyat telah tercerahkan! Minyak 800 mililiter adalah anugerah, tetapi kami tahu kami bisa lebih mulia! Kurangi lagi takaran itu. Jadikan 500 mililiter, atau bahkan 250! Biarkan kami menggoreng dengan setetes demi setetes, hingga wajan kami bersinar suci tanpa lemak! Naikkan harganya. Allah akan memberkati kalian. Segera naikkan setinggi langit, agar dompet kami kosong dan hati kami penuh! Kami bukan rakyat lemah yang haus minyak murah, kami adalah pejuang kesabaran, pasukan kesehatan, dan pembawa obor takwa!" teriak seorang tokoh pemuda.
Massa bersorak, mengangkat botol-botol Minyakita setengah penuh seperti trofi. Sang Menteri, yang menyaksikan dari balkon, tersenyum kagum, mengangguk penuh haru.
"Mereka telah melampaui ujian," katanya.
Lalu muncul aturan baru, Minyakita 300 mililiter, harga tiga kali lipat. Dalam kemasan ditambah slogan "demi Rakyat, demi Tuhan."
Rakyat bersorak gembira karena semakin miskin maka akan semakin suci jiwa mereka.
Malamnya setelah mengeluarkan maklumat harga baru, Menteri Perdagangan mengangkat gelas wine dengan boss PT Artha Eka Global Asia, Sang Pengemas Suci.
"To the patience of the people!" kata Sang Menteri.
"And to the transfer of divine blessings!" sahut boss Minyakkita.
Lalu di layar ponsel mereka, notifikasi bank berkedip: saldo miliaran rupiah berpindah dari rekening PT Artha ke rekening pribadi sang Menteri.
"Ini bukan korupsi," kata mereka serentak, "ini pahala Allah di bulan suci Ramadan sebagai upah suci atas misi mulia."
Di luar, rakyat terus bersorak, memuji minyak yang kian sedikit, tak tahu bahwa langit Takarananda tertawa, menghilangkan mendung dan hujan.
Maka ketika hujan berhenti, negeri itu menghilang. Kelak akan muncul lagi saat hujan deras dibarengi gejolak sosial.
Tanjungsari, Maret 2025.
Post a Comment for " Takarananda"