Festival Thothok Terusan: Warisan Budaya dan Penanda Pergantian Musim di Karimunjawa
Festival Thothok Terusan merefleksikan kedekatan masyarakat Karimunjawa dengan alam. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga warisan budaya dan mengembangkan kesadaran kolektif akan pelestarian alam.
GARISTEBAL.COM (KARIMUNJAWA)-Di balik keindahan pesisir Karimunjawa yang memikat, terdapat tradisi unik yang hanya bisa ditemukan di Desa Kemujan, yaitu Festival Thothok Terusan.
Setiap tahun, pada awal November, masyarakat berkumpul di padang lamun Terusan untuk mengikuti festival ini. Mereka tidak sekadar merayakan datangnya musim hujan, tetapi juga memperingati warisan budaya yang berakar kuat dan memelihara hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Festival ini dimulai ketika perairan Karimunjawa mengalami pasang surut maksimal, yang menjadi sinyal bagi masyarakat setempat bahwa musim telah berganti.
Saat air laut surut, muncul sejenis kerang bernama thothok atau anadara di perairan padang lamun Terusan.
Fenomena alam ini menarik minat tidak hanya warga lokal, tetapi juga wisatawan domestik dan internasional.
Bagi masyarakat Karimunjawa, kemunculan thothok dalam jumlah besar ini sudah lama dianggap sebagai pertanda akan datangnya musim hujan, sebuah "notifikasi" dari alam yang dijaga dan dihormati secara turun-temurun.
Tradisi mencari thothok telah diwariskan sejak zaman nenek moyang, dan hingga kini, warga dari berbagai dusun seperti Gonipah, Mrican, dan Batulawang di Desa Kemujan, bahkan desa tetangga seperti Nyamuk dan Parang, berbondong-bondong turun ke laut untuk merayakan festival ini.
Kehadiran mereka menunjukkan betapa pentingnya ritual ini, tidak hanya sebagai kegiatan mencari kerang, tetapi juga sebagai ajang berkumpul yang menyatukan masyarakat setempat.
Festival Thothok Terusan pertama kali diselenggarakan pada tahun 2023, dan pada 2024, festival ini kembali digelar dengan kemeriahan yang lebih besar.
Moh Shofi’i, penggagas acara sekaligus aktivis pecinta alam, menyatakan bahwa festival ini bukan hanya sebuah acara lokal, melainkan bentuk pemeliharaan pengetahuan tradisional tentang alam.
Shofi’i menjelaskan, “November itu musim pancaroba, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Jika thothok mulai muncul, itu pertanda bahwa musim hujan sudah dekat.”
Dengan pengetahuan ini, masyarakat mengembangkan hubungan erat dengan siklus alam, mengingatkan mereka bahwa setiap perubahan musim membawa berkah tersendiri yang perlu dihargai dan dijaga.
Tradisi ini tidak hanya mendatangkan manfaat sosial, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Kedatangan wisatawan yang ingin menyaksikan Festival Thothok Terusan memberikan peluang besar bagi warga untuk memperkenalkan kebudayaan mereka sambil memanfaatkan kunjungan ini untuk menambah penghasilan.
Sepanjang festival, warga menyediakan berbagai kebutuhan pengunjung, mulai dari makanan khas, kerajinan tangan, hingga layanan pemandu lokal.
Selain itu, wisatawan diajak untuk berpartisipasi langsung dalam kegiatan pencarian thothok bersama penduduk setempat, sebuah pengalaman yang tidak bisa didapatkan di tempat lain.
Meski festival ini berhasil menjadi daya tarik wisata, aspek pelestarian lingkungan tetap menjadi prioritas utama bagi masyarakat Desa Kemujan.
Shofi’i menekankan bahwa menjaga kelestarian alam Karimunjawa adalah tujuan utama dari festival ini. Ia melihat kegiatan ini sebagai bentuk edukasi bagi masyarakat dan wisatawan tentang pentingnya menjaga hubungan dengan alam dan menghargai isyarat-isyarat alam. “Notifikasi alam ini wujud dari hubungan harmonis antara manusia dan alam,” ungkap Shofi’i. Dengan memperkenalkan pengunjung pada nilai-nilai lokal yang mengedepankan keharmonisan dengan alam, masyarakat berharap dapat menanamkan kesadaran tentang pelestarian lingkungan bagi siapa pun yang hadir di festival ini.
Namun, melestarikan festival dan budaya ini bukan tanpa tantangan. Modernisasi dan perubahan gaya hidup bisa saja memudarkan tradisi ini jika tidak dijaga dengan baik.
Selain itu, keseimbangan antara mempromosikan pariwisata dan menjaga ekosistem lokal perlu diperhatikan agar festival ini tetap dapat berlangsung tanpa merusak lingkungan. Masyarakat Desa Kemujan dan sekitarnya telah berkomitmen untuk menjadikan Festival Thothok Terusan sebagai sarana mempererat hubungan mereka dengan alam.
Dalam jangka panjang, mereka berharap bahwa festival ini tidak hanya akan bertahan sebagai ritual tahunan, tetapi juga dapat menjadi simbol dan kebanggaan budaya Karimunjawa yang dikenal secara luas.
Sebagai wujud pelestarian budaya dan simbol pergantian musim, Festival Thothok Terusan merefleksikan kedekatan masyarakat Karimunjawa dengan alam.
Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga warisan budaya dan mengembangkan kesadaran kolektif akan pelestarian alam. Masyarakat Desa Kemujan dengan bangga menyelenggarakan festival ini setiap tahun, dan mereka berharap bahwa Festival Thothok Terusan akan terus berkembang menjadi warisan yang dihormati oleh generasi mendatang.
Penulis: Ardiyansyah
Post a Comment for "Festival Thothok Terusan: Warisan Budaya dan Penanda Pergantian Musim di Karimunjawa"