Eduard Douwes Dekker (Multatuli) dan Danudirja Setiabudi: Dua Nama, Dua Perjuangan, Satu Akar Kritis
Sejarah mereka mengajarkan bahwa suara melawan ketidakadilan tidak pernah mengenal batas waktu dan tempat.
GARISTEBAL.COM- Sejarah mencatat dua nama Douwes Dekker dengan peran berbeda, namun terhubung dalam garis perjuangan melawan ketidakadilan.
Nama pertama adalah Eduard Douwes Dekker, atau yang lebih dikenal sebagai Multatuli, seorang penulis Belanda yang menyulut kesadaran awal tentang eksploitasi di Hindia-Belanda melalui novelnya Max Havelaar (1860).
Nama kedua adalah Ernest François Eugène Douwes Dekker, atau lebih dikenal di Indonesia sebagai Danudirja Setiabudi, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang meletakkan dasar nasionalisme pada awal abad ke-20. Keduanya berakar dari keluarga yang sama, namun sejarah menempatkan mereka dalam jalur perjuangan berbeda—satu melalui pena, satu lagi melalui aksi langsung.
Multatuli: Pena Melawan Penjajahan
Eduard Douwes Dekker lahir di Amsterdam pada 2 Maret 1820. Kehidupannya di Hindia-Belanda sebagai pejabat kolonial membawanya pada pengalaman langsung menyaksikan ketidakadilan yang dialami rakyat pribumi akibat sistem tanam paksa (cultuurstelsel). Pengalamannya ini menjadi bahan dasar novel Max Havelaar, yang dengan tajam mengkritik kebijakan pemerintah kolonial dan perlakuan buruk para pejabat lokal terhadap petani. Dalam novel ini, Multatuli menyuarakan penderitaan rakyat Jawa sekaligus menguliti hipokrisi sistem kolonial.
Multatuli adalah nama pena yang diambil dari bahasa Latin, berarti “banyak yang aku sudah derita.” Nama ini mencerminkan protesnya terhadap kebobrokan moral pemerintahan kolonial. Meskipun Max Havelaar lebih ditujukan untuk pembaca Eropa, dampaknya menjangkau lebih luas, memengaruhi wacana anti-kolonialisme dan membangkitkan simpati terhadap perjuangan rakyat jajahan.
Danudirja Setiabudi: Aksi Nasionalisme
Ernest François Eugène Douwes Dekker, lahir pada 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur, adalah kakek dari Jan Douwes Dekker, saudara Eduard.
Tidak seperti Multatuli yang lahir di Belanda, Ernest lahir dan tumbuh di Hindia-Belanda, memberinya perspektif langsung sebagai bagian dari tanah jajahan. Ia mengadopsi nama Danudirja Setiabudi sebagai bentuk identitas pribumi, sebuah langkah simbolis yang menegaskan keterlibatannya dalam perjuangan Indonesia.
Danudirja Setiabudi dikenal sebagai salah satu tokoh “Tiga Serangkai” bersama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat. Mereka adalah pionir dalam pergerakan nasionalisme Indonesia. Ia adalah seorang penulis, wartawan, dan orator ulung, yang mengkritik kebijakan kolonial melalui media dan organisasi politik. Salah satu kontribusinya yang paling signifikan adalah menggagas nama "Nusantara" sebagai pengganti Hindia-Belanda, sebuah visi akan identitas yang merdeka dan berdaulat.
Beda Jalur, Tujuan yang Sama
Perbedaan utama antara Multatuli dan Danudirja Setiabudi terletak pada konteks perjuangan mereka. Multatuli adalah pengkritik dari dalam sistem kolonial, menggunakan sastra sebagai alat untuk memengaruhi opini publik Eropa. Sebaliknya, Danudirja Setiabudi adalah pelaku aktif dalam perjuangan kemerdekaan, berjuang untuk rakyat Indonesia melalui organisasi, tulisan, dan tindakan politik.
Namun, keduanya memiliki kesamaan mendasar: kritik terhadap ketidakadilan dan keberpihakan pada kemanusiaan. Multatuli membuka mata dunia tentang realitas penjajahan, sementara Setiabudi melanjutkan perjuangan itu dengan membangun gerakan nasionalisme.
Warisan yang Berlanjut
Hingga kini, nama Multatuli dan Danudirja Setiabudi terus dikenang. Max Havelaar menjadi referensi klasik dalam kajian kolonialisme, sementara gagasan nasionalisme dan Nusantara yang diusung Setiabudi menjadi fondasi penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Dua tokoh ini, meskipun berasal dari konteks yang berbeda, adalah simbol bahwa perjuangan melawan ketidakadilan bisa dilakukan melalui berbagai cara—dengan pena ataupun aksi nyata. Sejarah mereka mengajarkan bahwa suara melawan ketidakadilan tidak pernah mengenal batas waktu dan tempat.
Tulisan dari berbagai sumber
Post a Comment for "Eduard Douwes Dekker (Multatuli) dan Danudirja Setiabudi: Dua Nama, Dua Perjuangan, Satu Akar Kritis"